Perjalanan Waktu Duo Desainer

Sabtu, 12 November 2016 | 08:00 WIB

Perjalanan Waktu Duo Desainer

Model mengenakan koleksi Desainer Ghea Panggabean di hari pertama peragaan busana IPMI Trend Show 2017 di Senayan City, 8 November 2016. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Jakarta – Bau kembang setaman menyeruak begitu pengunjung memasuki ruang presentasi busana karya desainer Era Soekamto, Selasa 8 November 2016 lalu. Di atas panggung IPMI Trend Show 2017 yang dibentangkan di Senayan City, sudah ada miniatur pendapa—tempat untuk menghadap penguasa di masa lalu. Tak ketinggalan para dayang dan abdi dalem yang membawakan payung.

Tembang macapat mengalun mengiringi langkah para model yang memamerkan 12 koleksi adibusana 2017. Temaram lampu membuat emas yang menghiasi busana Era seakan-akan berpendar. Sesekali bulu kuduk berdiri, bukan akibat dinginnya pengatur suhu ruangan, melainkan karena karisma sang model ketika berlenggak-lenggok dalam balutan busana Era.

Era menyebutkan ide busananya datang dari filsafat Asmaradana—tembang macapat bertema cinta. Macapat merupakan puisi tradisional Jawa yang menceritakan kehidupan. Lewat Asmaradana, Era tampaknya hendak menuturkan kekuatan cinta seorang perempuan Jawa.

Di balik kelembutan sikap dan tutur kata perempuan Jawa, kata dia, ada kekuatan yang dapat menaklukkan seorang raja. Juga, ada kekuatan yang membuatnya bisa menghentikan atau sebaliknya malah menyulut peperangan.

Kekuatan itu tampaknya diwakili oleh bubuhan emas yang menghiasi tiap busananya. Pembubuhan tidak dilakukan dengan mesin, melainkan memakai tangan. “Motif batiknya ditulis dan dicanting sama seperti membatik biasa, tapi tidak pakai lilin,” kata dia. Teknik pembubuhan prada emas ini jelas bukan teknik biasa.

Apalagi Era membuatnya di atas material sutra organza yang sangat halus dan tipis. Untuk menjaga kesan klasik, dia menampilkan motif batik kuno dengan teknik perada emas. Hasilnya, serangkaian busana kebaya yang jauh dari kesan usang tampil di panggung White Cube. Era membuat kebaya klasik tampil modern.

Beberapa jam sebelumnya, di panggung Mini Runway, ada desainer Ghea Panggabean yang menawarkan latar belakang perdagangan rempah berabad-abad lampau di Selat Malaka. Cerita dimulai dari Pulau Barus, Sumatera Utara, yang diyakini ahli sejarah sebagai pusat niaga rempah internasional.  Pulau ini adalah penghasil barus, yang merupakan komoditas penting untuk Eropa.

Ghea membawa kita menyusuri sejarah dengan menghadirkan busana dari kain ulos. Tapi busana itu sudah diadaptasi ke siluet modern, seperti rok berpotongan lurus dan celana slim fit yang dipadukan dengan busana berpotongan loose (bahan jatuh). Ada juga midi dress berpotongan lurus yang dipadukan dengan atasan seperti blazer hitam. Hiasan kepala yang mirip dengan milik Sisingamangaraja XII semakin mengentalkan kesan Batak.

Cerita lalu berpindah ke tanah Palembang ketika Gending Sriwijaya menjadi musik latar. Di sini, kita diajak menapak tilas kehebatan Kerajaan Sriwijaya dalam menguasai perdagangan rempah. Ghea membuat busana serupa busana raja, bangsawan, dan pendeta pada masa itu. Motif limar dan songket emas jadi andalan Ghea. Dia menghiasinya dengan bordir dan manik untuk memperkaya busana. 

Yang seru, Ghea juga membawa kita ke tanah Jawa. “Saya menampilkan kain batik parang, batik cinde, dan batak alas-alasan,” kata dia. Semuanya dipadankan dengan jaket beludru bergaya para raja dan prajurit keraton zaman baheula. “Busana ala keraton dan prajurit ini nampaknya akan menjadi tren,” dia menuturkan.

Ghea mengemas presentasinya dalam tema “The Spice and Silk Route from Sumatera to Java”. Jalur sutra tergambar jelas lewat presentasi busana luar hitam bertekstur halus yang mengayun ringan ketika sang model berjalan. “Gue suka banget sama busana itu,” kata seorang pengunjung ketika peragaan busana berakhir.

DINI PRAMITA

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Bent Arfa [admin Jualcytotecmisoprostol.com]