Kategori: 11. Komplikasi Aborsi

Bagaimana cara mengetahui komplikasi dan apa yang harus dilakukan?

Jika dilakukan pada 10 minggu pertama kehamilan, aborsi medis memiliki sedikit sekali resiko komplikasi. Resiko ini sama dengan resiko perempuan mengalami keguguran. Dokter dapat dengan mudah menangani masalah ini. Dari setiap 100 perempuan yang melakukan aborsi medis, 2 atau 3 perempuan akan pergi ke dokter, puskesmas, atau ruma sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Berikut adalah kemungkinan komplikasi, gejala dan perawatannya:

Perdarahan berat (terjadi kurang dari 1% dalam aborsi medis)

  • Gejala: Perdarahan berlangsung lebih dari 2 jam, menggunakan pembalut ukuran maxi setiap jamnya. Pusing atau kepala terasa ringan bisa jadi tanda kehilangan banyak darah. Hal ini membahayakan kesehatan anda dan harus ditangani oleh dokter.
  • Perawatan: Vakum aspirasi (kuret) Jarang terjadi (kurang dari 0.2%) diperlukan transfuse darah.

Aborsi tidak lengkap

  • Gejala: Perdarahan berat atau terus menerus dan atau nyeri tak tertahankan yang berkelanjutan.
  • Perawatan: vakum aspirasi (kuret)

Infeksi

  • Gejala: Jika anda demam (lebih dari 38 derajat celcius) selama lebih dari 24 jam, atau anda deman lebih dari 39 derajat celcius, kemungkinan anda mengalami infeksi yang memerlukan perawatan.
  • Perawatan: antibiotik dan atau vakum aspirasi.

Bila anda menduga terjadi komplikasi, maka segeralah pergi ke dokter. Bila anda tinggal ditempat dimana aborsi dianggap tindak kriminal dan tidak ada dokter yang dipercaya, anda tetap memiliki akses layanan medis. Anda tidak perlu memberitahu petugas medis bahwa anda mencoba melakukan aborsi. Beritahukan bahwa anda mengalami keguguran. Dokter memiliki kewajiban untuk membantu dalam semua kasus.

Gejala-gejala yang timbul sama dan dokter tidak dapat melihat perbedaan atau menemukan bukti aborsi selama semua pil sudah larut. Jika anda melakukan protokol dibawah lidah seperti yang kami rekomendasikan, pil-pil tersebut seharusnya sudah larut dalam jangka waktu 3 jam pemakaian. Jika anda menggunakannya melalui vagina, periksalah dengan jari-jari anda untuk memastikan apakah semua pil sudah larut. Sisa-sisa pil dapat ditemukan dalam vagina hingga 4 hari setelah pemakaian.

Kurang dari 1% perempuan mengalami kehamilan yang berlanjut. Hal ini bisa dipastikan melalui tes kehamilan setelah 3 minggu atau USG setelah 10 hari. Apabila aborsi medis gagal, ada sedikit kemungkinan terjadi kecacatan seperti pada tangan atau kaki dan gangguan syaraf pada janin. Untuk menangani kehamilan yang berlanjut anda harus mengulangi aborsi secara medis atau operasi.

Sumber ilmiah:

Penelitian telah menunjukkan bahwa hanya sedikit komplikasi terjadi akibat aborsi medis dibandingkan dengan jumlah perempuan yang mengalami kesuksesan. Pada segelintir kasus dimana intervensi semacam kuret (vakum aspirasi) diperlukan, layanan tersebut dapat dikelola oleh layanan kesehatan yang juga menangani kasus keguguran.

Bagaimana mengetahui aborsi anda tidak lengkap?

Aborsi tidak lengkap adalah aborsi yang hanya separuh sukses. Kehamilan berakhir – tidak ada janin yang berkembang, namun tubuh anda hanya mengeluarkan sebagian jaringan dan produk kehamilan. Jika anda mengalami perdarahan yang berkelanjutan, perdarahan terlalu berat (lebih banyak dari saat menstruasi biasa), nyeri dibagian perut yang berlanjut hingga beberapa hari setelah penggunaan Misoprostol, nyeri tak tertahankan, deman, perdarahan yang berlanjut hingga lebih dari 3 minggu, nyeri saat perut didorong, anda mungkin mengalami aborsi tidak lengkap. Anda harus pergi ke rumah sakit atau dokter untuk menyelesaikan aborsi jika terjadi gejala semacam ini. Hal ini penting dilakukan karena jaringan dan darah yang tertinggal dalam tubuh dapat menyebabkan perdarahan berat atau infeksi. Perawatan aborsi tidak lengkap legal dimana pun.

Di negara-negara dimana perempuan dapat dituntut karena melakukan aborsi, petugas medis tidak perlu diberitahu bahwa anda mencoba melakukan aborsi; anda bisa mengatakan bahwa anda mengalami keguguran. Tidak ada tes yang dapat menunjukkan bahwa seorang perempuan telah melakukan aborsi medis. Aborsi yang tidak lengkap sangat penting ditangani. Perawatan bagi aborsi tidak lengkap disebut dengan vakum aspirasi, atau kuret. Di klinik manapun yang menangani komplikasi keguguran, aborsi tidak lengkap juga dapat ditangani karena gejala-gejala yang sama.

Apa itu kuret/vakum aspirasi dan apakah diperlukan paska aborsi medis?

Kuret atau dilatasi dan kuret (D&C) merupakan intervensi bedah untuk mengeluarkan isi rahim. Kadang perawatan ini diperlukan jika ada komplikasi paska aborsi medis atau keguguran.
Namun, di beberapa negara dokter terbiasa melakukan kuret meskipun tidak diperlukan secara medis. Anda TIDAK memerlukan kuret jika hasil USG menunjukkan masih ada sedikit sisa-sisa dalam rahim atau mengalami perdarahan lebih dari 3 minggu namun tidak ada nyeri, demam, atau perdarahan berat. Sedikit sisa-sida dalam rahim dapat ditangani menggunakan dosis ekstra Misoprostol atau anda dapat menunggu hingga periode menstruasi selanjutnya. Kemungkinan besar rahim akan bersih dengan sendirinya. Menstruasi reguler akan kembali dalam 4-6 minggu paska aborsi medis. Setelah menstruasi kembali normal, tidak akan ada sisa jaringan yang tertinggal dalam rahim anda.
Namun, jika anda mengalami keluhan seperti demam, nyeri berkepanjangan dan perdarahan berat, intervensi seperti vakum aspirasi diperlukan. Tanyakan pada dokter prosedur jenis apakah yang ia gunakan karena lebih baik menggunakan vakum aspirasi dibandingkan bedah kuret atau D&C (vakum aspirasi memiliki sedikit resiko dan tidak terlalu menyakitkan).
Semua prosedur harus dilakukan dibawah anestesi lokal atau umum!

Sumber ilmiah:

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) “Jika perempuan dalam keadaan baik, perdarahan yang berlanjut atau sisa jaringan dalam Rahim (yang dideteksi melalui USG) bukan merupakan indikasi untuk intervensi operasi. Sisa-sisa hasil konsepsi akan dikeluarkan melalui perdarahan vaginal berikutnya. “Evakuasi Rahim melalui operasi dapat dilakukan atas permintaan perempuan apabila perdarahan terlalu berat atau berkepanjangan, atau menyebabkan anemia, atau terdapat bukti terjadinya infeksi”.
Jika USG menunjukkan ada sisa-sisa dalam rahim namun anda merasa baik-baik saja, tunggulah hingga beberapa minggu. Jika anda mulai memperhatikan gejala komplikasi, pergilah ke dokter sesegera mungkin. Bacalah artikel ini “Bagaimana mengetahui anda mengalami komplikasi dan apa yang harus dilakukan?”
Dilatasi dan kuret harus digunakan hanya jika komplikasi terdiagnosa dan jika vakum aspirasi tidak tersedia. Vakum aspirasi merupakan metode bedah paling aman dan baru dan anda harus selalu menanyakan ketersediaan metode selain kuret.

Bagaimana mengetahui anda mengalami infeksi paska aborsi?

Bagaimana mengetahui kehamilan anda berlanjut?

Kehamilan yang berlanjut adalah kehamilan yang berkembang bahkan setelah penggunaan Misoprostol. Dalam kasus ini, aborsi benar-benr gagal dan perempuan tetap hamil. Bahkan meski anda mengalami perdarahan, kehamilan dapat berlanjut. Perdarahan tidak berarti aborsi anda telah sukses. Jika anda masih merasakan gejala-gejala kehamilan seperti nyeri payudara atau mual, anda mungkin mengalami kehamilan yang berlanjut. Lakukan USG atau tes kehamilan tiga minggu kemudian untuk memastikan kehamilan telah berakhir. Kebanyakan tes kehamilan yang dilakukan 3 minggu setelah aborsi bisa dipercaya. Penting untuk menunggu 3 minggu setelah aborsi karena hormon kehamilan masih tertinggal dalam tubuh dan dapat menghasilkan tes kehamilan yang masih positif. Jika anda mengalami kehamilan yang berlanjut setelah melakukan aborsi medis, anda dapat mencoba metode aborsi medis kembali atau melakukan aborsi lewat operasi. Karena Misoprostol dapat meningkatkan resiko kecacatan, kami menyarankan perempuan dengan kehamilan yang berlanjut untuk melakukan aborsi secara medis atau operasi untuk menghentikan kehamilan

Kemungkinan apa yang membuat janin mengalami kecacatan jika kehamilan anda berlanjut?

Apabila anda mengalami kehamilan yang berlanjut setelah menggunakan Misoprostol, resiko memiliki bayi dengan cacat lahir makin meningkat. Namun, resiko ini tergolong kecil, kurang dari 1 diantara 1000. Resiko ini lebih kecil dibandingkan resiko melahirkan bayi dengan Down Syndrome.

Kami menyarankan perempuan dengan kehamilan yang berlanjut untuk menjalani aborsi secara medis atau operasi untuk menghentikan kehamilan supaya terhindar dari resiko janin mengalami kecacatan.

Sumber ilmiah:
Janin yang terpapar Misoprostol dapat mengalami kecacatan, seperti pada tengkorak dan kelainan tungkai (dinamakan Sindrom Mobius).
Meski begitu, resiko memiliki bayi dengan kecacatan setelah menggunakan Misoprostol masih rendah dan sulit diukur.

Sebagai perbandingan: resiko memiliki anak dengan Down syndrome adalah 1/1,300 untuk perempuan berusia 25 tahun; pada umur 35 tahun, resiko ini meningkat 1/365.  Hanya perempuan hamil berusia lebih dari 35 tahun yang disaring untuk Down Syndrome menunjukkan bahwa resiko bayinya mengalami Down Syndrome lebih rendah 1 diantara 365, dan dianggap bisa diterima. Hal ini jauh lebih beresiko daripada Mobius Syndrome sebagai akibat penggunaan Misoprostol (kurang dari 1/1000).

Karena pembatasan distribusi Misoprostol, Dengan membuat regimen yang lebih efektif tersedia, layanan bantuan aborsi ini membuat prosedur aborsi medis mandiri lebih aman bagi perempuan dan mengurangi resiko kehamilan berlanjut dan berakhir dengan kecacatan pada janin, walau pun resiko ini sangat kecil.

© Bent Arfa [admin Jualcytotecmisoprostol.com]